Indonesia Negara yang
mempunyai jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, yang terdiri lebih dari 500
kelompok etnis besar dan kecil yang memeluk lima agama besar yakni islam,
hindu, Buddha, katolik, Kristen dan kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, memiliki
kekayaan budaya yang sangat beraneka ragam khususnya seni pertunjukan. Dalam
sebuah buku Theatre in sountheast
asia (1967) karya James R. Brandon
mengatakan bahwa bentuk-bentuk seni pertunjukan di Indonesia tahun 1960’an
adalah tiga-perempat dari seluruh bentuk –bentuk seni pertunjukan yang tersebar
di seluruh wilayah asia.
Dari beragam macamnya budaya dan tradisi yang ada di
Indonesia, pulau jawa merupakan sebuah wilayah yang mempunyai keanekaragam budaya
yang hingga saat ini sangat sulit dideteksi serta dijelaskan secara rinci
terkait jumlah tradisi kebudayaan yang ada dalam masyarakat Jawa tersebut.
mulai dari budaya suku Sunda, suku Batak, suku Jawa, suku Madura, suku Betawi
dan masih banyak lagi.
Di
wilayah jawa bagaian timur tepatnya provinsi jawa timur terdapat tujuh
pembagian subkultur yaitu subkultur Jawa Pesisir Utara, subkultur Jawa Wetanan/
Arek, subkultur Jawa Tengger, subkultur Medalungan, subkultur Osing.
Subkulture osing merupakan kebudayaan tradisi suku osing Banyuwangi. Suku osing banyuwangi
terkenal dengan budaya yang mempunyai ciri khas berbeda dengan budaya jawa lainnya,
hal ini disebabkan oleh faktor geografis wilayah banyuwangi yang berdekatan
dengan pulau bali. kebudayaan yang ada di suku osing banyuwangi merupakan perpaduan
antara kebudayaan masyarakat bali dan jawa sehingga membentuk suatu kebudayaan
yang memiliki ciri khas tersendiri. Di banyuwangi sendiri terdapat berbagai
macam budaya dan tradisi diantaranya adalah tradisi upacara ritual adat Seblang.
Pertunjukan ritual Seblang merupakan acara ritual besih desa. Seblang terdapat
dua macam yakni Seblang Olesari dan Seblang Bakungan.
Seblang
Bakungan merupakan ritual adat masyarakat Banyuwangi tepatnya masyarakat Desa
Bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Ritual Seblang Bakungan
biasanya dilaksanakan tujuh hari setelah hari raya Idul Adha.Pelaksanan ritual
Seblang Bakungan haruslah tepat pada hari tersebut tidak mengalami perubah, penentuan
waktu acara Seblang secara turun-temurun.
Ritual
Seblang biasanya diawali dengan pembukaan tari khas banyuwangi di lanjut dengan
acara pawai menuju kuburan sesepuh desa, setelah acara ke makam barulah ada
acara pertunjukan penari Seblang. Penari seblang merupakan penari yang
mempunyai garis keturunan dengan Seblang, pemilihan penari biasanya di pilih
orang sesepuh atau orang pintar “berhubungan dengan unsur magis” yang sudah
diberi wangsit atau pertanda "biasanya melalui mimpi" oleh sesepuh atau
leluhur yang sudah meninggal dengan kriteria sudah mengalami fase mause atau
sudah tidak mengalami menstruasi. Pada pertunjukan Ritual Seblang penari akan
di doa’I atau di mantrai oleh sesepuh desa sampai penari tersebut kesurupan,
kesurupan pada penari Seblang diyakini
masyarakat sekitar sebagai perwujutan dari leluhur mereka bahwa yang memasuki
penari Seblang adalah penari Seblang pertama “leluhur mereka”. Gerak penari seblang saat ritual juga sangat
sederhana dan monoton, akan tetapi dalam setiap gerakan mempunyai makna dan
simbol. Biasanya penari Seblang menggunakan property sebagai penguat dari
geraknya misalnya keris. Keris yang digunakan pun turun temurun yang hanya
dikeluarkan saat acara ritual adat Seblang di laksanakan. Penari seblang
biasanya menggunakan rambut dari daun pisang dan bunga khusus sebagai
busananya.
Acara
ritual Seblang juga banyak penjual bunga khusus yang sudah Diritualkan.
Masyarakat setempat menyakini bahwa bunga tersebut dapat mendekatkan dengan
jodoh atau banyak rezki.
Diakhir
pertunjukan tari Seblang biasanya penari menjelaskan apa makna dari gerak yang
di lakukan, yang di yakini masyarakat Bakungan sebagai pencerminan kehidupan
mereka kedepan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar