Minggu, 25 Januari 2015

Ritual Seblang Bakungan Banyuwangi



Indonesia Negara yang mempunyai jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, yang terdiri lebih dari 500 kelompok etnis besar dan kecil yang memeluk lima agama besar yakni islam, hindu, Buddha, katolik, Kristen dan kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, memiliki kekayaan budaya yang sangat beraneka ragam khususnya seni pertunjukan. Dalam sebuah buku Theatre in sountheast asia   (1967) karya James R. Brandon mengatakan bahwa bentuk-bentuk seni pertunjukan di Indonesia tahun 1960’an adalah tiga-perempat dari seluruh bentuk –bentuk seni pertunjukan yang tersebar di seluruh wilayah asia.
            Dari beragam macamnya budaya dan tradisi yang ada di Indonesia, pulau jawa merupakan sebuah wilayah yang mempunyai keanekaragam budaya yang hingga saat ini sangat sulit dideteksi serta dijelaskan secara rinci terkait jumlah tradisi kebudayaan yang ada dalam masyarakat Jawa tersebut. mulai dari budaya suku Sunda, suku Batak, suku Jawa, suku Madura, suku Betawi dan masih banyak lagi.
Di wilayah jawa bagaian timur tepatnya provinsi jawa timur terdapat tujuh pembagian subkultur yaitu subkultur Jawa Pesisir Utara, subkultur Jawa Wetanan/ Arek, subkultur Jawa Tengger, subkultur Medalungan, subkultur Osing.
            Subkulture osing merupakan kebudayaan tradisi suku osing Banyuwangi. Suku osing banyuwangi terkenal dengan budaya yang mempunyai ciri khas berbeda dengan budaya jawa lainnya, hal ini disebabkan oleh faktor geografis wilayah banyuwangi yang berdekatan dengan pulau bali. kebudayaan yang ada di suku osing banyuwangi merupakan perpaduan antara kebudayaan masyarakat bali dan jawa sehingga membentuk suatu kebudayaan yang memiliki ciri khas tersendiri. Di banyuwangi sendiri terdapat berbagai macam budaya dan tradisi diantaranya adalah tradisi upacara ritual adat Seblang. Pertunjukan ritual Seblang merupakan acara ritual besih desa. Seblang terdapat dua macam yakni Seblang Olesari dan Seblang Bakungan.
Seblang Bakungan merupakan ritual adat masyarakat Banyuwangi tepatnya masyarakat Desa Bakungan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Ritual Seblang Bakungan biasanya dilaksanakan tujuh hari setelah hari raya Idul Adha.Pelaksanan ritual Seblang Bakungan haruslah tepat pada hari tersebut tidak mengalami perubah, penentuan waktu acara Seblang secara turun-temurun.
            Ritual Seblang biasanya diawali dengan pembukaan tari khas banyuwangi di lanjut dengan acara pawai menuju kuburan sesepuh desa, setelah acara ke makam barulah ada acara pertunjukan penari Seblang. Penari seblang merupakan penari yang mempunyai garis keturunan dengan Seblang, pemilihan penari biasanya di pilih orang sesepuh atau orang pintar “berhubungan dengan unsur magis” yang sudah diberi wangsit atau pertanda "biasanya melalui mimpi" oleh sesepuh atau leluhur yang sudah meninggal dengan kriteria sudah mengalami fase mause atau sudah tidak mengalami menstruasi. Pada pertunjukan Ritual Seblang penari akan di doa’I atau di mantrai oleh sesepuh desa sampai penari tersebut kesurupan, kesurupan pada penari Seblang  diyakini masyarakat sekitar sebagai perwujutan dari leluhur mereka bahwa yang memasuki penari Seblang adalah penari Seblang pertama “leluhur mereka”.  Gerak penari seblang saat ritual juga sangat sederhana dan monoton, akan tetapi dalam setiap gerakan mempunyai makna dan simbol. Biasanya penari Seblang menggunakan property sebagai penguat dari geraknya misalnya keris. Keris yang digunakan pun turun temurun yang hanya dikeluarkan saat acara ritual adat Seblang di laksanakan. Penari seblang biasanya menggunakan rambut dari daun pisang dan bunga khusus sebagai busananya.
Acara ritual Seblang juga banyak penjual bunga khusus yang sudah Diritualkan. Masyarakat setempat menyakini bahwa bunga tersebut dapat mendekatkan dengan jodoh atau banyak rezki.
Diakhir pertunjukan tari Seblang biasanya penari menjelaskan apa makna dari gerak yang di lakukan, yang di yakini masyarakat Bakungan sebagai pencerminan kehidupan mereka kedepan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar